Anak dan Remaja pun Bisa Berduka

Sama seperti orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalami kedukaan. Sebagai orang tua / orang dewasa, tentunya kita harus terus mendampingi anak-anak seiring perkembangan usianya karena proses merangkul duka adalah sebuah proses yang panjang. 


Sebuah organisasi kesehatan anak,Kids Health, di New Zealand menjelaskan tentang proses kedukaan pada usia bayi, anak dan remaja. Ternyata sejak bayi pun, mereka bisa mengalami perasaan duka loh.  Banyak orang tua tunggal atau anggota keluarga lainnya yang kebingungan menghadapi anak-anak yang sedang berduka. Tak jarang, karena ketidaktahuannya, orang dewasa menganggap bahwa kedukaan pada anak akan berlalu begitu saja. Nyatanya, banyak anak (mau pun orang dewasa) yang takut atau tidak bisa mengekspresikan rasa dukanya dengan baik dan sehat sehingga berdampak buruk pada perkembangan diri anak-anak.


Berikut adalah proses berduka yang dapat dialami anak dan remaja sesuai perkembangan usianya: 


Usia 0 - 2 Tahun

Bayi dan batita belum mengerti konsep kematian. Tentunya mereka juga belum dapat berbicara untuk mengungkapkan perasaan kehilangan, tetapi mereka dapat merespons perubahan dan menangkap kesusahan yang terjadi di sekitar mereka seperti lebih rewel, menurun keinginan untuk makan atau main, dll.


Cara membantu proses berduka:

* Lebih sering memberi pelukan dan sentuhan
* Tetap jalani rutinitas sebisa mungkin
* Bersikap dan berbicara tenang kepada mereka
* Menyediakan barang yang menenangkan (selimut, boneka, dll) 


Usia 3 - 4 Tahun

Usia pra-sekolah mengerti konsep kematian dengan pemahaman yang sedikit berbeda. Terkadang mereka berpikir bahwa kematian tidak permanen (bisa kembali hidup) atau berpikir mereka melakukan kesalahan dan membuat orang tersebut meninggal. Gunakan kata nyata 'meninggal' untuk membantu mereka memahami konsep kematian, bukan kata 'pergi' atau 'tidur'.  Mereka juga takut akan perubahan dan butuh rasa aman.  Mereka bisa menjadi lebih rewel, menarik diri, menjadi penakut atau pendiam.


Cara membantu proses berduka:

* Lebih sering memberi pelukan dan dorongan semangat

* Beri informasi dan jawaban jujur, termasuk tentang keamanan dirinya (siapa yang akan menjaga mereka)

* Menjelaskan kematian adalah bagian dari kehidupan (ceritakan kematian alami hewan/tumbuhan sebagai contoh) atau bacakan buku tentang kedukaan/kematian

* Bantu ekspresikan perasaannya melalui kegiatan kreatif seperti membuat kotak berisi kenangan foto, dll.


Usia 5 - 12 Tahun

Pada anak usia sekolah, mereka perlahan mengerti konsep kematian adalah permanen. Anak-anak akan mulai banyak bertanya dan tertarik pada apa yang terjadi pada yang telah meninggal/mati. Menjawab pertanyaan dengan jujur pada usia kelompok ini adalah penting. Pemahaman mereka akan berkembang dari waktu ke waktu dan mengajukan pertanyaan yang sama berkali-kali untuk memahami pengalaman mereka. Biasanya tingkat kecemasan mereka lebih tinggi, merasa 'berbeda' dari temannya, menarik diri, atau jadi 'bertingkah'. Teruslah mendampingi mereka.


Cara membantu proses berduka:

* Katakan kalau kita tahu mereka sedih, bantu gunakan kata-kata untuk menggambarkan perasaannya.

* Bantu lakukan kegiatan rutin dalam kesehariannya

* Sering berinteraksi dengan orang yang disayangi

* Luangkan waktu untuk mendengarkan mereka

* Berikan dorongan semangat untuk berkarya atau olah raga 


Usia 13 tahun ke atas

Remaja sudah memahami konsep kematian adalah bagian dari kehidupan. Secara perkembangan, mereka berada dalam masa perubahan fisik dan emosional yang besar. Kedukaan bisa memberikan dampak besar dan butuh banyak dukungan.Di usia remaja, biasanya mereka lebih ingin bersama dengan teman sebaya daripada keluarga untuk mendapatkan dukungan, dan ini normal. Tetapi bagi beberapa remaja juga mengalami kesulitan mengungkapkan perasaannya namun tetap ingin terlihat seolah-olah tidak apa-apa (menyangkal emosi) bisa berdampak buruk. Mereka bisa mengambil risiko perilaku negatif sebagai bentuk pelarian atau mencari perhatian.


Cara membantu proses berduka:

* Saling bercerita, mendengarkan dan akui perasaan mereka

* Ajak bicara tentang kedukaan (grief), apa yang normal dan bagaimana setiap orang berduka secara berbeda

* Hindari ekspektasi remaja berperilaku seperti orang dewasa

* Minta dukungan dari keluarga besar, teman, guru atau bantuan profesional

* Puji dan semangati mereka 


"Creativity is the essential response to grief"
Henry Seiden, Ph.D. 

Banyak penelitan menyebutkan bahwa melakukan kegiatan kreatif saat berduka akan membantu seseorang dalam mengatasi kesulitan emosi atau kesedihan mendalam. Pada anak usia yang lebih besar, ajak mereka berkomunikasi melalui menulis jurnal, membuat memory box, menggambar, menari, dan lainnya.  


Berapa pun usia mereka, yang pasti mereka membutuhkan dukungan dari orang terdekat. Terkadang bagi mereka, pelukan dan merasa didengar bisa mengurangi bebannya sedikit demi sedikit. 


Yuk cek apa yang bisa kita lakukan untuk memahami dan membantu anak-anak agar mereka dapat mengekpresikan perasaannya dan melewati perjalanan pulihnya sesuai perkembangan usianya.  


Jangan pernah lelah untuk menemani mereka berproses ya!


(sumber: kidshealth.org.nz)