Sambut Rasa Bahagia Kembali Lewat Karya

Beberapa hari memori Facebook mengingatkan sebuah kejadian lima tahun lalu. Yes, lima tahun lalu, saya sempat lupa perasaan happy itu seperti apa sejak ditinggal almarhum.

Akhirnya saya menemukan semangat untuk mengikuti kelas art, dan untuk pertama kalinya saya ingat rasa happy lagi! Menuangkan segala emosi ke sebuah kanvas, tiba-tiba rasa senang itu muncul kembali. Tujuh bulan sebelumnya rasa happy itu hilang. Lupa rasanya happy seperti apa.

Selagi mengerjakan karya ini, untuk pertama kalinya saya merasa ada beban yang lepas. Perasaan senang seperti almarhum masih ada kembali, merasa diingatkan almarhum yang tetap hadir memberi dukungan.

Pasti dia akan bilang, "Agak lumayan, Moms." yang artinya bagus banget. Ya, memang gitu dia nyebutnya, tidak pernah bilang bagus tapi 'agak lumayan'. Dia memang senang kalau saya berkarya atau membuat sesuatu, walau ya pasti ada aja kritikannya dari dia.. haha.. Yes, dia adalah kritikus numero uno dalam hidup saya.

Art is healing. Indeed. Tidak harus art and craft sih, kebetulan saja dunia saya ya seputar itu. Apa pun yang kita senangi bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga dan mengelola kesehatan mental kita, karena yaa menyalurkan emosi ke hal positif itu memang penting.

Untungnya saya terbiasa membangun kebiasaan itu sejak dulu. Jadi ketika segala persoalan hidup datang, saya tahu harus ngapain untuk mengendalikan dan mengelola emosi dan perasaan saya.

Sama seperti pandemi datang, dan waktu itu saya memilih untuk menulis sebagai media untuk menjaga kesehatan mental, hingga lahir buku solo pertama #pesancinta17.

Dan kini, saya ingin mengaajak semua orang untuk menjaga kesehatan emosionalnya lewat seni dan kreativitas dengan @merakit.diri dan #MindArtExercise. Semoga bisa menjadi wadah seseorang untuk healing juga.