Cerita si Safitri – Bagaimana Saya Merakit Diri?

Bagaimana Saya Merakit diri

Cerita si Safitri - ibu lajang petualang

Semua berawal dari kesalahan demi kesalahan. Karena kegagalan justru adalah lahan tempat semangat perubahan bertumbuh.

Pertama mengenal istilah 'Merakit Diri' melalui postingan Mba Karinka Ngabito di Single Moms Indonesia Group.


Tergerak untuk membuka laman web nya dan menemukan begitu banyak ilmu berharga di dalamnya.


Saya selalu yakin bahwa tiap manusia adalah 'a super attractor'.


Apapun pengalaman hidup yang kita tarik menjadi kenyataan, semua adalah karena pikiran serta perasaan kita yang menginginkannya. Jadi ketika saya ingin mengalami keterpurukan, maka saya tinggal merasa sedih, down, tidak berdaya, lemah, dll.


Maka sudah bisa dipastikan hanya hal - hal yang sefrekuensi dengan itu yang akan hadir dalam kehidupan saya.


Maka kemudian saya memutuskan untuk memutus mata rantai.


Mengapa saya ingin hal buruk terjadi?
Mengapa saya menenggelamkan diri saya sendiri?


Setelah kesalahan dan kegagalan, akhirnya muncul juga titik 'muak' pada diri saya. Titik dimana saya ingin menghancurkan diri saya sehancur-hancurnya untuk kemudian saya bisa membangun pondasi ulang.


So, kehancuran bukan berarti akhir dari segalanya. Kehancuran justru bisa berarti baik, dimana sesuatu yang baru bisa dimulai setelahnya.


Dan karena saya sepakat dengan diri saya bahwa saya hanya akan menarik hal - hal yang bersifat 'kreatif' maka saya mengganti pola pikir saya.


Dari yang awalnya limiting self beliefs atau selalu mengatakan hal - hal buruk seperti: Kamu ga bakalan bisa. Iihh..emang kamu siapa? Mana mungkin kamu bisa dan lain sebagainya.

Saya mengubah prioritas bahwa saya haruslah menyayangi diri saya terlebih dahulu.

Mencintai diri saya seutuhnya dan sebenar - benarnya.

Saya menerima diri seapa adanya, bila memang ada kekurangan ya sudah, itulah saya, mengapa saya harus menolak kekurangan saya.


2013 perjalanan itu dimulai, dan 2020 semua mulai menampakkan hasil.

Selama rentang waktu tersebut, saya melakukan 3 hal yaitu Eksplorasi diri, Self-healing dan Relaksasi.

Perjalanan yang saya sebut sebagai perjalanan kreatif, dimana saya berusaha untuk merakit diri saya, agar saya dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan berkembang dengan seharusnya.

Proses kreatif amat sangat erat kaitannya dengan proses merakit diri.

Karena kreatifitas adalah segala hal tentang menghubungkan (connecting).

Menghubungkan diri dengan segala yang dibutuhkan agar menjadi 'a creative soul'.


Apa hal yang dibutuhkan?

- Kesalahan
Ijinkan diri untuk melakukan kesalahan.
Karena dari kesalahan itulah muncul pelajaran.
Meski kesalahan itu berpotensi memberikanmu luka, it's okay tetap berjalan.
Because 'The wound is the place where the light enters you' - Rumi

Tanpa kesalahan, jangan harap akan ada pelajaran.

Maka beruntunglah kamu, jika kamu banyak melakukan kesalahan.

Beruntunglah karena kamu jadi punya banyak ilmu untuk dipelajari.

Maka sambutlah keberuntungan itu, secara kreatif, agar memberikanmu kekuatan besar untuk melakukan turning point.


- Titik Balik
Dari yang bukan siapa - siapa menjadi seseorang.
Dari yang tak berguna menjadi super berdaya.


Kurun waktu 2013 hingga 2020 saya gunakan untuk menemukan jalan menuju 'Creative Lifestyle'.

Sebuah gaya hidup dimana saya secara masif menambah kadar cinta kepada diri saya.

Hal tersebut amatlah penting mengingat latar belakang saya yang merupakan survivor PTSD.

Self love sangatlah membantu saya dalam mengatasi masalah kesehatan mental. Lalu bagaimana saya melakukannya?


Berikut ulasan 3 hal yang sebelumnya telah saya sebutkan di atas:

1. Eksplorasi Diri
Saya melakukan refleksi diri.


Berkenalan ulang dengan diri saya sendiri.
By doing self talk.
By doing solo travel all around Bali 
.
(baca kisahnya di sini)

Dan setelah saya membaca tulisan di web Merakit Diri, saya menemukan tulisan menarik tentang 8 kecerdasan yang bisa kamu pilih untuk tekuni dalam proses eksplorasi diri menuju 'creative well-being stage'. 

Dari 8 point yang disebutkan, sudah tentu saya memilih Kecerdasan Lingustik!

Loh kok memilih? Kepedean banget?! Please stop that limiting self belief!
Karena kamu sebenarnya amat sangat bisa memilih kecerdasan mana (yang sebenarnya telah ada di dalam diri kamu) yang mau kamu gunakan untuk merakit dirimu menjadi lebih baik.


2. Self-healing
Proses ini memiliki peranan sangat vital dalam turning point saya dari tidak berdaya menjadi berdaya.

Dari tidak berani menjadi super berani. Pasca berbagai gangguan mental, psikomatis hingga suicide syndrome yang pernah saya derita, saya memutuskan untuk menyembuhkan diri saya dari trauma dan luka hati. Siapa yang menyebabkan saya merasakan trauma dan luka hati?

Diri saya sendiri!

I break the cycle by adding my EQ.

Saya 'bersekolah' di Universitas Kehidupan, demi mencerdaskan emosi saya. Kapanpun merasa terluka atau tersakiti, saya tidak akan serta merta bereaksi, saya membalik pola pikir saya secara extreme.

Alih - alih marah, saya menjadi sosok yang dibutuhkan oleh diri saya ketika terluka. Saya dihakimi - maka saya justru akan merasakan pengertian (understanding) - mengapa saya dihakimi, oh karena yang menghakimi saya tidak punya cukup pengetahuan tentang siapa saya, it's fine, saya peluk diri ini karena saya tahu, ketika kita dihakimi dengan kata - kata yang tidak mengenakkan hati, maka hanya pelukan penuh ketenangan yang kita butuhkanKetika saya ditolak, saya memilih untuk menerima. 


Penolakan itu sakit, tapi penerimaan tidak. 

Maka daripada saya kembali menolak diri saya pasca ditolak oleh seseorang (entah dalam percintaan maupun hal lain dalam hidup) lebih baik saya menerima diri saya, It's okay, Fitri, it is what it is. He or she or they said NO to you, but I will always say YES Now, smile.

Jadi saya, berperilaku dari sisi welas asih saya, bukan dari sisi luka saya setelah menerima perlakuan yang kurang mengenakkan.

Ah, masa sih bisa kayak begitu? Macam manusia sempurna saja.


Then try me!

Saya akan sangat berterima kasih setiap kali ada orang mencoba saya.

Menguji saya.

Karena orang itulah guru sesungguhnya.

Tapi kalau nanti ternyata saya tidak sebaik itu bagaimana ?Kalau semisal saya tetap saja marah atau emosi bagaimana?

Ya, it's okay. Kan saya sedang belajar.

Tentu saya akan berusaha menjadi yang terbaik, namun bila memang momentumnya belum tepat ya apa mau dikata.


Kembali lagi ke point awal, kalaupun saya gagal, saya akan menjadi orang yang saya butuhkan bila saya sedang gagal.

Yah, gagal. But that's okay. We can try again.

Memahami dan menerima keadaan serta menjadi apa adanya.

As simple as that.


3. Relaksasi
Relaksasi adalah proses penting dalam mengelola tingkat stress.


Relaksasi adalah hal terbaik yang bisa kamu berikan untuk dirimu.

Cara saya berelaksasi adalah dengan memiliki 'Me Time'. Ber-solitude ria saya menyebutnya.

Melakukan kegiatan yang amat sangat saya sukai, kegiatan yang 'menyembuhkan', yang 'merelaksasi' dan dua kegiatan itu adalah menulis dan travelling.

Untuk itulah saya menciptakan ruang eskpresi saya dalam melakukan dua hal tersebut

Dan inilah ruang ekspresi itu : https://www.ibulajangpetualang.com/

Saya dengan relaks bisa berbagi kisah dan pemikiran, tanpa malu, tanpa ragu tanpa takut.

Saya menjadi lebih kreatif dan ceria karena ternyata tubuh saya pun ikut merespon dengan cara menambah produksi hormon - hormon kebahagiaan seperti dopamin, oksitosin, serotonin dan endorfin.


Proses merakit diri saya tentunya tidak mudah, saya mengalami banyak hal dalam perjalanan selama kurun waktu 2013 hingga saat ini.

Ada banyak usaha, jerih payah dan perjuangan yang sudah dan masih terus saya lakukan. Tapi yang jelas, 2020 semua mulai menampakkan hasilnya.

Saya mulai dipertemukan dengan hal, situasi maupun orang - orang yang saya tarik dari cara baru saya dalam berpola pikir.

2020 saya menemukan komunitas Single Moms Indonesia, lalu saya mendaftar sebagai anggota di Single Moms Indonesia Group bertemu orang orang luar biasa yang tentunya akan sangat banyak jumlahnya bila saya tag mereka satu per satu.


Lalu saya terpikir untuk membuat ruang ekspresi bernama Ibu Lajang Petualang.


Hingga akhirnya saya menemukan Merakit Diri dan menjalin pertemanan dengan foundernya. Wow! What a match!


Semua seperti mata rantai yang saling bertautan.


Bertemu satu kemudian bertemu lagi yang lain.


Rupanya beginilah cara semesta ini bekerja.